Lewat Tengah Malam, Deretan "Hantu" Naiki Angkot Warna Merah di Pelabuhan Merak

    11 Oktober 2017 : 10:14
    Liputan Khusus-inspiratif.co.id
    (Foto-ilustrasi)
    Cilegon (Banten) - Malam tepat pukul 01.45 wib, Rabu 11 Oktober 2017 tim Inspiratif.co.id tiba di Pelabuhan Merak, Provinsi Banten, hendak menuju kota Gudeg, Yogyakarta. Namun, berencana mampir sejenak di Kota Cilegon, untuk sekedar menengok saudara dan istirahat untuk siangnya melanjutkan perjalanan ke Yogya untuk beberapa urusan bisnis media online ini.

    Ketika kaki telah sampai di jalan tepat di depan pintu terminal pelabuhan, deretan mobil angkutan kota (angkot) berwarna merah berjejer, lalu kami pun naik di salah satu angkot yang berjalan sedikit demi sedikit, untuk memperoleh penumpang lebih banyak sampai akhirnya...

    Naiklah beberapa perempuan-perempuan cantik berusia sekitar 20 tahunan, setidaknya ada empat orang, sebut saja Mawar, Anggrek, Melati, dan Raflesia. Satu dari mereka dalam kondisi sedikit mabuk, Raflesia, dengan dibuktikan beberapa kali tidak bisa kontrol berbicaranya namun kemudian dirinya juga beberapa kali minta maaf kepada penumpang lain yang kebetulan berdekatan dengannya.

    Dari cara mereka berpakaian, kemudian gaya bicara sudah bisa kami pun menebak para perempuan muda ini bekerja sebagai penghibur di salah satu tempat hiburan di wilayah pelabuhan Merak.

    Sorotan mata beberapa lelaki yang menjadi penumpang angkot jurusan Cilegon - Merak ini melirik, lantaran pakaian yang kurang pantas yang dipakai mereka (para perempuan muda itu). Salah seorang dari keempatnya tampak mengeluarkan sebungkus rokok mild, dilihat sebentar isinya namun di masukkan kembali di dalam tas miliknya. Setelah itu, perempuan itu merapikan rambut lalu berkaca, dan berbicara kepada tiga perempuan lain bahwa dirinya berencana untuk lakukan creambath rambutnya dari hasil profesinya itu.

    Ketika para perempuan muda itu sampai di tujuan mereka, satu demi satu melewati kami yang saat itu duduk tepat di depan pintu masuk angkot. Mata mereka tampak layu, lantaran begadang.

    Perempuan yang duduk tepat disamping penulis, tampak menyadari kalau pakaiannya menjadi sorotan para penumpang lain. "Maaf ya, bukan bermaksud untuk tidak sopan. Tapi pakaiannya memang kesempitan," ujar perempuan itu sambil melangkah keluar angkot.

    Ini membuktikan bahwa kondisi moral anak bangsa kian memperihatinkan. Lantaran pergaulan yang salah membuat hancur masa depannya.

    Dan motto kota yang santun, agamis, yang dimiliki Kota Cilegon tercoreng atas kerusakan akhlak anak muda dalam pergaulan.

    Kemudian, peran kontrol orang tua juga dipertanyakan. Karena, di jam yang seharusnya waktu mereka beristirahat, justru dihabiskan mereka untuk mencari nafkah untuk kebutuhan pribadi mereka. Sampai pada akhirnya, mereka akan tersesat tanpa ada yang menuntun mereka ke arah yang lebih baik. (*)

    Sorot

TERKINI
Copyright © 2017 Tim Pustaka Karya Sejati - All Rights Reserved | Support by: Inspiratif.co.id